Pada umumnya organisasi mahasiswa selalu menawarkan benefit yang cenderung sama atau template. Bermacam-macama tawaran seperti meningkatkan kapasitas keilmuan, menambah relasi serta pengalaman berorganisasi dan lain sebagainya. Akan tetapi, pola serupa ini sering membuat mahasiswa baru kesulitan melihat “keunikan” masing-masing organisasi. Akibatnya, banyak calon kader atau anggota memandang semua ormawa maupun ormek seolah sama saja, hanya berbeda nama, lingkup, warna almamater, ataupun ideologi.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hadir bukan sekadar sebagai organisasi mahasiswa biasa, tetapi sebagai ruang kaderisasi yang memiliki pondasi kuat dan arah yang jelas. Ada beberapa alasan mendasar mengapa IMM menjadi pilihan yang tepat bagi mahasiswa untuk bertumbuh, mengabdi, dan berproses.
Pertama, IMM Memiliki Orang Tua Kandung
Berbeda dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus lainnya, IMM lahir dari rahim Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Inilah keistimewaan IMM, ia tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada persyarikatan besar yang telah terbukti berjasa membangun bangsa. Ikatan ini memiliki rumah ideologis yang kokoh, sehingga setiap langkah kadernya selalu berlandaskan nilai Islam yang berkemajuan.
Kedua, Lembaga, Majelis, Amal Usaha Muhammadiyah sebagai Mitra
IMM memiliki akses langsung untuk belajar dan berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan majelis di Muhammadiyah. Hal ini membuka kesempatan kader untuk memperluas wawasan, memperkuat kapasitas, sekaligus memberi ruang aktualisasi dalam lingkup yang lebih luas daripada sekadar kampus. IMM punya akses luas untuk belajar, bekerjasama dan berkontribusi melalui sekolah, kampus, rumah sakit, serta lembaga sosial Muhammadiyah walaupun IMM itu berada di non-PTM.
Ketiga, Ranah gerak IMM jelas dan khas
IMM memiliki tiga ranah gerak fundamental yaitu, keagamaan, kemahasiswaan, kemasyarakatan. Keagamaan, IMM berakar pada nilai Islam berkemajuan, menjadikan aspek spiritual dan moral sebagai pondasi gerak organisasi. Kemahasiswaan, IMM hadir sebagai organisasi kader di kampus, yang fokus pada pengembangan intelektualitas, kepemimpinan, dan daya kritis mahasiswa. Kemasyarakatan, IMM tidak berhenti di ruang akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat melalui advokasi, gerakan sosial, dan pengabdian.
Keempat, IMM anti budaya Feodal
IMM menegaskan diri sebagai organisasi mahasiswa anti feodal. IMM tidak membangun kultur patronase, senioritas berlebihan, atau ketergantungan kader pada figur tertentu. Bagi IMM, setiap kader memiliki posisi yang sama sebagai insan akademis, pencari kebenaran ilmiah, sekaligus pejuang kemanusiaan. Berbeda dengan organisasi lain yang sering terjebak dalam kultur hierarkis, terlebih di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kelima, IMM (non PTM) membentuk mental survive
Berbeda dengan organisasi lain yang dikenal menguasai politik kampus PTKIN, atau memiliki banyak tokoh besar di level nasional, IMM menawarkan sesuatu yang berbeda, daya tahan, kemandirian, dan keberanian berpijak pada ideologi sendiri. Kader IMM dibentuk dengan mental survive, terbiasa menghadapi dinamika kampus tanpa bergantung pada kekuasaan, terbiasa berpikir kritis tanpa takut berbeda, dan terbiasa bergerak aktif dengan penuh keberanian. Mental survive ini menjadikan IMM tidak mudah goyah oleh tekanan eksternal, tidak silau oleh jabatan, dan tidak larut dalam pragmatisme politik.
IMM: Proses Panjang, Bukan Jalan Instan
IMM tidak pernah menjanjikan jalan instan. Jika ingin mendapatkan sesuatu dari IMM, maka Anda harus mencarinya dengan sungguh-sungguh, menyelaminya sedalam mungkin, dan menjalaninya sepenuh hati. Sebab, IMM adalah ruang proses tempat ditempa, diuji, dan dibentuk hingga lahir kader yang benar-benar memiliki mental survive, daya juang, dan komitmen ideologis. IMM bukan jalan pintas, melainkan jalan perjuangan dan hanya mereka yang berani berproseslah yang akan merasakan makna sejatinya.
Seseorang justru akan merasakan manfaat pragmatis dari sebuah organisasi karena prosesnya itulah, seperti jaringan yang luas, pengalaman kepemimpinan, ketahanan mental, hingga kedewasaan berpikir. IMM memberi bukan dengan cara instan, tetapi melalui proses panjang yang menjadikan setiap manfaat lebih bermakna dan berdaya guna. Lebih dari itu, IMM yang berada di bawah naungan Muhammadiyah membuka peluang besar bagi kadernya untuk terhubung dengan amal usaha yang nyata mulai dari sekolah, kampus, rumah sakit, hingga lembaga sosial maupun pendidikan sebagai ruang belajar, pengabdian sekaligus pertolongan.
Anekdot Hangat di IMM
Sebuah anekdot dalam IMM yang sering bikin suasana cair, katanya huruf “M” dalam IMM bisa berarti macam-macam. Ada yang menyebut M itu “makan-makan”, karena setiap kegiatan IMM pasti ada momen kebersamaan sambil makan bareng. Juga ada yang bilang M itu “main-main”, karena IMM tidak hanya serius, tapi juga punya ruang hangat untuk bersenda gurau. Ada pula yang menyebut M itu “miki-mikir”, karena IMM memang melatih kadernya untuk kritis, berpikir dalam, dan tidak asal ikut-ikutan.
Bersama IMM, Anda tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi juga bagian dari gerakan besar Muhammadiyah. Oleh karena itu carilah IMM di kampus atau fakultas anda dan bergabunglah untuk mencapai tujuannya, yaitu Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
*M. Arif Rahman Setiadin (Ketua Umum PC IMM Sleman)