Berakhirnya Ujian Akhir Semester kampus tidaklah melulu memenangkan hati para mahasiswa. Pasalnya, dengan berakhirnya Ujian tersebut berarti tenggat waktu pembayaran uang kuliah semester berikutnya semakin dekat. Mungkin hal ini akan terasa biasa-biasa saja bagi mahasiswa yang biaya kuliah dan hidupnya masih disubsidi atau bahkan disponsori penuh oleh orang tua. Tapi bagi mahasiswa yang mandiri finansial? tentu saja hal ini menjadi tambahan beban pikiran. Terlebih apabila uang yang akan digunakan membayar kuliah belum ada. Salah satu contoh kasusnya adalah apa yang dialami oleh Bimo, salah satu mahasiswa kampus Islam di Jogja.
Bimo yang bersedih di hari kemerdekaan
Hari saat kejadian itu berlangsung adalah Minggu, 17 Agustus 2025. Suatu hari yang dirayakan oleh seluruh masyarakat karena merupakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 78. Tak terkecuali di Tampungan, salah satu dusun kecil di kecamatan Berbah, Sleman. Pada Hari itu, warga Tampungan bersuka ria bergembira merayakan hari kemerdekaan. Bapak-bapak sibuk lomba panjat pinang di pesawahan depan masjid, Ibu-ibu beramai-ramai senam kesegaran jasmani, anak-anak pun turut meramaikan dengan berbagai perlombaan yang diselanggarakan pemuda setempat. Seluruh elemen masyarakat hadir di keramaian itu dengan berbagai atribut merah putih, kecuali Bimo.
Hari itu, Bimo tidak terlihat di tengah keramaian. Ia sedang bingung merenungi nasib kuliahnya. Proses belajarnya di bangku perkuliahan terancam terputus karena keesokan harinya (tanggal 18) adalah tenggat waktu akhir membayar uang kuliah. Perlu diketahui bahwa Bimo adalah salah satu pemuda tanggung dusun Tampungan yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.
Keduanya meninggal bulan lalu karena kecelakaan tunggal. Sebelum meninggal, kedua orang tuanya sempat dirawat di rumah sakit selama satu pekan. Namun takdir tidak memihak kepada Bimo, kedua orang tuanya tidak dapat diselamatkan. Hal ini tentu saja menyebabkan Bimo merasakan kesedihan yang mendalam. Terlebih seluruh harta kekayaan kedua orang tuanya telah habis guna membiayai rumah sakit. Tinggalah Bimo sebatang kara dengan rumah tua dan beberapa perabotan sederhana di rumahnya.
Sebetulnya Bimo mendapatkan tawaran beasiswa dhuafa’ atau kurang mampu dari berbagai penyelanggara beasiswa pasca meniggalnya kedua orang tuanya. Namun Bimo menolak tegas. Menurutnya, diri dan keluarganya bukanlah golongan yang tidak mampu atau miskin. Bagi Bimo, ia masih sanggup bekerja keras untuk menyambung hidup dan pendidikannya. Sebuah mental yang luar biasa hebat bagi seorang anak muda yang baru saja ditinggal pergi kedua orang tuanya. Hal ini berbanding terbalik dengan beberapa temannya yang sebetulnya mereka mereka mampu dan kaya raya, tetapi pura-pura miskin bahkan berbohong demi mendapatkan beasiswa dhuafa’.
Tabungan tanah liat ayam Jago
Ditengah- Tengah kesedihannya, Bimo seketika teringat tabungan tanah liat berbentuk ayam jago yang ada di kamarnya. Tabungan itu telah diisi Bimo sejak dua tahun lalu. Tanpa berpikir Panjang, ia bergegas mengambil dan membantingnya ke lantai. “Pyaaaar….” suara pecahan tabungan Bimo terdengar keras, terlihat pula Kumpulan uang Bimo yang bercampur dengan pecahan tabungan Ayam jagonya. Nominalnya beragam, lima ratus rupiah, seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, bahkan ada yang serratus ribu. Bimo mulai memungumpulkan dan menghitung jumlahnya. Berharap uang hasil tabungannya selama dua tahun terakhir dapat mencapai nominal pembayaran uang kuliah.
Namun lagi- lagi takdir tidak memihak kepada Bimo, nominal uang yang didapatnya masih kurang sekitar 500 ribu rupiah. Tentusaja hal ini menambah kesedihan Bimo, Alih- alih senang dapat membayarkan kuliah esok hari, malah uang tabungannya jauh dari kata cukup. Lagi- lagi Bimo harus berpikir keras bagaimana mendapatkan uang tambahan untuk biaya kuliah.
“Apa aku pinjam uang saja ya lewat pinjol?” “atau aku terima saja beasiswa dhuafa’? toh aku juga benar-benar tidak mampu bukan?” Bimo benar- benar merasakan kebinguan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bahkan tanpa disadari, matanya meneteskan air mata. Perasaannya campur aduk sekali. Bingung, pusing, sedih, khawatir, kesal. Perasaan- perasaan itu campur aduk berkecamuk di pikiran Bimo.
Dalam kebingungannya, Bimo merebahkan tubuhnya yang terasa Lelah. Bukan Lelah fisiknya, tapi Lelah jiwa dan otaknya. memikirkan solusi Keberlanjutan kuliahnya yang tak kunjung menemukan titik terang. Ia terus mengkhawatirkan hal itu. Apabila hari esok (tanggal 18) uang kuliah itu belum dibayarkan, maka status kemahasiswaan Bimo akan otomatis berubah dari mahasiswa aktif menjadi cuti. Sistem akademik kampus akan otomatis mengubah status mahasiswa yang tida membayar uang kuliah sampai tenggat waktu yang ditentukan.
Harapan terakhir Bimo
Pada akhir upaya Bimo memikirkan solusi terbaik dalam masalahnya, ia memutuskan untuk menjual beberapa perabotan rumahnya yang masih layak pakai. Perabotan tersebut adalah lemari tua, jam dinding rusak dan sepeda butut peninggalan ayahnya. Bimo sebetulnya ragu menjual sepeda butut ayahnya, karena almarhum ayahnya bisa marah besar apabila melihat itu terjadi. Tapi hal itu tetap Bimo lakukan karena ia yakin bahwa almarhum ayahnya akan lebih marah apabila melihat Bimo putus kuliah.
Tanpa menunggu waktu lama, Bimo segera mengeluarkan Sepeda butut ayahnya. ia menaikkan lemari tua dan jam dinding rusak di bagian belakang sepeda, kemudian mengikatnya dengan tali rafia. Ia kembali meneguhkan hatinya untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya. “Kalau hasil dari penjualan ini tidak cukup, maka aku akan cuti setahun untuk melanjutkan kuliahku di tahun depan” Bimo bergumam dalam hati. Sebuah kalimat yang menunjukkan ketegaran yang sebetulnya berbalut keputus asaan.
Bimo susah payah mengemudikan sepeda itu, beban berat di bagian belakang ternyata membuatnya sulit mengatur keseimbangan. Terlebih jalan yang ia lalui banyak yang berlubang dan tidak rata. Sebetulnya jalan yang dilalui sudah waktunya diperbaiki, Namun boleh jadi dana perbaikan jalan tersebut dialokasikan untuk pembangunan tol atau Ibu Kota Negara, sehingga perbaikan jalan tersebut ditunda.
Setelah susah payah melalui jalan tersebut untuk kali ketiga, takdir tidak memihak kepada Bimo. Ia terjatuh dari sepeda. Sudah jatuh, tertimpa sepeda, tertimpa almari pula. Sial sekali Nasib Bimo. Pasca jatuh, Bimo tidak langsung berdiri, ia merintih kesakitan. kali ini tidak hanya jiwa dan otaknya yang lelah, fisik Bimo pun lelah, bahkan sakit. Lengkap sudah penderitaan Bimo hari itu. Harapan terakhir Bimo kandas bersamaan dengan jatuhnya ia dari sepeda. Ia benar-benar telah putus asa.
Jam dinding rusak Bimo dan Bapak-bapak Lazismu Berbah
Ketika Bimo telah benar-benar di ujung keputus asaan, ternyata bantuan dan pertolongan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bukan dari Pemerintah ataupun pejabat negara yang sering mengumbar janji, melainkan dari bapak-bapak berpakaian Lazismu (Sebut saja pak Joko) yang sepertinya baru saja pulang dari kegiatan tujuh belasan. Pak Joko kaget melihat ada anak muda yang terjatuh dari sepeda dan tidak segera bangkit. Bergegaslah Pak Joko menghampiri Bimo.
“Kamu kenapa nak, kok bisa tiduran di jalan” Ujar pak Joko sambil memegang bahu kanan bimo. “Pake nanya pak pak, sudah tahu saya jatuh tertimpa almari, masih lo pura-pura ndak tau”. Bimo kesal melihat Pak Joko yang bukannya langsung menolong, malah basa-basi bertanya. Kemudian bergegaslah Pak Joko menolong Bimo dan mendudukannya di pinggir jalan.
“Kamu ini kenapa, kok bawa-bawa almari sama Jam? kamu jualan?” Pak Joko bertanya kebingunan. “Bukan pak, tapi…” Bimo kemudian menjelaskan apa yang ia alami. Bahkan Bimo tak kuasa membendung air mata ketika menceritakan kepiluan kisahnya ke Pak Joko. Ia banyak meneteskan air mata.
“Oalah. Kebetulan sekali kamu bertemu saya. Perkenalkan, nama saya pak Joko. Saya adalah staf Lazismu Berbah bagian beasiswa dan kaderisasi. Nah, kebetulan masih ada sisa kuota beasiswa, gimana? kamu mau ndak?” Pak Joko memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan niat baiknya kepada Bimo.
***
“Beasiswa dhuafa’ ya pak? saya tidak mau, saya masih mampu pak.” Ujar Bimo menolak ketus. “Ooo…, bukan nak, yang saya tawarkan adalah beasiswa kader Persyarikatan Muhammadiyah, kamu kader Muhammadiyah kan? Pak Joko kembali bertanya. “Kok bapak tau?” Bimo tentu saja heran, pasalnya Bimo sama sekali tidak menunjukkan identitasnya sebagai kader Persyarikatan. “Ooo…, ya jelas saya tahu, lha wong jam yang kamu bawa itu jam Muhammadiyah. Ya berarti kemungkinan besar kamu kader Persyarikatan.” Bimo bergegas melihat jam yang ia bawa. bahkan ia baru sadar kalau jam rusak yang ia bawa adalah jam dengan gambar persyarikatan.

Gambar 1. Jam rusak yang dibawa Bimo
Selalu ada hikmah dibalik musibah
Seketika Bimo sujud syukur dan menangis sekencang-kencangnya. ia benar-benar terharu dengan konsep pertolongan Allah yang datang dari sudut yang tidak pernah disangka-sangka. Pada Akhirnya, Bimo dapat turut merasakan kegembiraan di hari kemerdekaan seperti orang lain pada umumnya. Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Joko yang telah menjadi wasilah dalam jalan keluar masalahnya.
“Ah, semakin bangga aku jadi kader Muhammadiyah, Terima kasih Muhammadiyah. Terima kasih pemerintah yang menunda perbaikan jalan di kampungku sehingga aku terjatuh dan bertemu pak Joko. Bagiku, Muhammadiyah lebih banyak berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa daripada pemerintah yang hanya sibuk membangun jalan tol dan Ibu Kota Negara.” Ujar Bimo dalam hati.
*Budi Sudrajat (Pimpinan Cabang IMM Sleman)